Kepanikan melanda para anggota Sekte Api Langit yang menyaksikan pertempuran dari kejauhan. Saat melihat sosok berpakaian aneh menyerang leluhur mereka, rasa takut merayap di hati mereka.

"Dia... dia membunuh leluhur kita?" ujar seorang murid senior wanita dengan suara gemetar. Matanya membelalak, tubuhnya bergetar tak percaya. Awalnya, ia yakin leluhur mereka mampu mengatasi pria itu dengan mudah. Namun, setelah melihat jurus-jurus terkuat leluhur dihancurkan tanpa kesulitan, kini yang tersisa hanyalah ketakutan. Sosok yang menyebut dirinya Plasura itu telah mengalahkan leluhur mereka.

"Senior, apakah kau serius? Aku tidak bisa melihat pertarungan dengan jelas dari sini," kata Deng Wei, murid yang pernah menghalangi Lynx saat pertama kali datang ke sekte. Dengan kultivasi ranah Master Foundation Perak tahap awal, ia hanya bisa merasakan gelombang energi pertarungan dan melihat titik di kejauhan, tapi tak dapat melihat detailnya.

"Apa menurutmu aku bercanda soal leluhur kita?!" bentak murid senior itu, suaranya penuh emosi. "Dia sudah membunuh ketua sekte, dan sekarang... leluhur kita. Habis sudah kita semua!"

"Ling Mei, apa yang sebenarnya terjadi? Kau bisa melihatnya, bukan?" tanya Lala, suaranya penuh kegelisahan. Dengan kemampuannya, ia hanya bisa melihat sosok-sosok kecil di kejauhan. Berbeda dengan Ling Mei, yang memiliki ranah lebih tinggi dan bisa menyaksikan segalanya dengan jelas.

Namun, Leena hanya diam. Ia melihat dengan jelas pertarungan yang terjadi antara Leluhur Sekte Api Langit dengan Lynx, dan Ia juga mendengar percakapan rekan-rekannya, memahami ketakutan mereka, tapi hatinya ragu, dan ia yakin... Lynx tidak akan membunuh leluhur mereka begitu saja tanpa alasan.

Leena, yang masih memperhatikan keadaan disekitarnya, tiba-tiba teringat kejadian sebelumnya. Sebelum mereka semua keluar untuk melihat aksi Lynx menolong para anggota Sekte, Leena bertanya kepada Li Wei mengenai maksud kalimat Lynx, "Tapi kau tidak tahu jika mereka menuduhku membunuh ketua Sekte kalian. Kalau aku turun tangan terlalu cepat, bisa-bisa aku malah disalahkan lagi."

Kata-kata itu, saat itu berputar di benaknya. "Bukankah Shen Mo yang membuat kekacauan? Kenapa justru Lynx yang dituduh?"

Ia ingin menanyakan hal itu langsung, namun Lynx tidak memberinya kesempatan. Saat itu, Lynx menyuruh mereka untuk mundur karena Lynx ingin menggunakan artefak. Dia ingin segera menyelamatkan sekte dari kehancuran.

Karena itu, Leena akhirnya mengalihkan pandangannya ke Li Wei dan bertanya, "Kau bilang ketua sekte sudah terbunuh. Siapa pembunuhnya? Apakah Shen Mo?"

Nada suaranya mengandung kekhawatiran, seolah ia sudah bisa menebak jawaban yang akan keluar dari mulut adik seperguruannya.

Li Wei saat itu menunduk sedikit sebelum menjawab pelan, "Tetua Xie mengatakan bahwa orang berpakaian aneh yang menolong sekte adalah pembunuhnya... Tapi aku yakin, bukan itu kebenarannya."

Li Wei tidak berani menyebutkan nama Lynx secara langsung. Jika ada murid sekte lain yang mendengar, situasinya bisa semakin kacau.

Mendengar itu, mata Leena membulat. Pikirannya berputar cepat. Ada sesuatu yang janggal. Ini bukan sekadar pertarungan biasa—ada sesuatu yang terjadi di balik semua ini.

***

Lynx melayang di udara dengan tatapan datar, memandang tubuh Leluhur Sekte Api Langit yang kini tak sadarkan diri di tangannya. Sisa-sisa pertempuran masih terasa di udara, hawa panas yang tadi membakar kini perlahan mereda. Setelah memastikan tidak ada ancaman lebih lanjut, ia menghela napas perlahan.

"Saatnya kembali."

Dengan satu gerakan tangannya, tubuh Leluhur terangkat, melayang dengan tenang dalam genggaman energi tak kasat mata. Tanpa tergesa-gesa, ia berbalik dan mulai terbang kembali menuju sekte.

"Lihat! Dia kembali!" teriak seorang murid dari kejauhan, suaranya dipenuhi ketegangan.

Sekumpulan murid dan tetua sekte yang berkumpul di halaman utama segera menengadah ke langit, mata mereka membelalak saat melihat sosok Lynx mendekat.

Saat ia mendarat, membawa tubuh Leluhur yang tak sadarkan diri, keheningan menyelimuti tempat itu sesaat.

"Leluhur!"

Seruan panik terdengar dari berbagai arah. Para murid bergegas maju, sebagian terhenti dalam kebimbangan, sementara beberapa langsung menatap Lynx dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau… kau membunuhnya!"

"Monster keji!"

"Kami tidak akan memaafkanmu!"

Gelombang kemarahan melonjak di antara mereka. Energi para anggota sekte mulai berkobar, tekanan Qi memenuhi udara, menciptakan suasana yang semakin mencekam. Dalam sekejap, mereka semua bersiap menyerang, lebih memilih bertarung mati-matian daripada membiarkan orang asing itu pergi begitu saja.

Namun, sebelum mereka bisa bergerak—

"Diam!"

Suara Lynx bergema seperti gelegar guntur di tengah langit cerah.

Getaran energi dari suaranya membuat banyak murid langsung kehilangan keseimbangan, beberapa bahkan jatuh terduduk di tempat. Hawa dingin yang tiba-tiba muncul membuat nyali mereka menciut, seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan dada mereka.

Lynx perlahan menurunkan tubuh Leluhur dengan tenang, meletakkannya di atas tanah. Tatapannya menyapu mereka satu per satu, penuh ketenangan namun juga mengandung tekanan yang sulit dijelaskan.

"Dia hanya kehabisan tenaga," katanya dengan nada datar. "Dia masih hidup."

Keheningan seketika menyelimuti sekte itu.

Para tetua buru-buru bergegas memeriksa kondisi Leluhur. Salah satu dari mereka meraba pergelangan tangannya, lalu wajahnya langsung berubah drastis.

"Nadinya masih kuat… Napasnya stabil…"

Tatapan tidak percaya muncul di antara mereka.

Lynx menyilangkan tangan di dadanya. "Aku tidak membunuhnya. Jika aku menginginkannya mati, itu bisa terjadi sejak awal."

Kata-katanya membuat banyak murid menahan napas. Mereka sadar, sejak awal pria ini sama sekali tidak serius dalam bertarung.

Lynx menatap mereka dengan pandangan tajam, suaranya kembali terdengar dingin.

"Kalian terlalu cepat menuduh seseorang. Aku sudah cukup bersabar. Jangan buat aku menyesal menyelamatkan sektemu."

Tak ada yang berani membalasnya.

Sekte Api Langit terdiam, tak satu pun dari mereka mampu membantah kata-kata pria itu.

***

Di dalam sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh para tetua, Leluhur Sekte Api Langit perlahan membuka matanya. Tatapannya yang tajam dan penuh pengalaman menyapu sekeliling, memastikan dirinya sadar sepenuhnya. Ia mencoba bangkit, namun rasa lelah akibat pertempuran sebelumnya masih mencengkeram tubuhnya seperti rantai besi.

"Di mana aku?" Suaranya serak, namun tetap memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Para tetua yang berjaga segera mendekat, wajah mereka penuh kelegaan. Tetua Lian, yang paling senior di antara mereka, segera membungkuk hormat.

"Leluhur, Anda akhirnya sadar."

Kening Leluhur Sekte Api Langit berkerut. "Tetua Lian, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa berada di sini?"

Tetua Lian menundukkan kepala sedikit sebelum menjawab, "Anda dibawa kembali oleh orang misterius itu, yang menyebut dirinya 'Plasura'."

Mata Leluhur menyipit. Ingatannya kembali pada pertempuran terakhirnya—Plasura, orang misterius berpakaian aneh dengan kekuatan yang tak terduga, seperti jurang tanpa dasar. Ia mengingat dengan jelas bagaimanadirinya tak berdaya melawan satu serangan saja dan semua teknik terkuatnya seolah bukan apa-apa bagi orang tersebut.

"Plasura..." gumamnya pelan. "Siapa sebenarnya dia?"

Namun sebelum pikirannya tenggelam lebih dalam, sebuah pertanyaan lain muncul.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada sekte selama aku mengasingkan diri?" tanyanya.

Tetua Lian menarik napas panjang, raut wajahnya menunjukkan beban yang berat. "Leluhur... banyak hal telah terjadi."

Suasana dalam ruangan seketika menjadi semakin tegang.

"Beberapa minggu yang lalu, Tetua Huang mengkhianati kita semua. Dia meracuni Ketua Sekte sehingga kekuatan Ketua Sekte menghilang. Dia juga membuat Ketua Sekte terluka parah. Kami tidak menyadari pengkhianatannya sampai semuanya sudah terlambat."

Seketika, aura panas menyelimuti ruangan. Leluhur mengepalkan tangan, semburat api samar menyala di sekelilingnya.

"Huang Jian... aku akan membunuhnya." Tekad itu terukir dalam hatinya.

Tetua Lian melanjutkan, suaranya semakin berat. "Tetua Huang tidak bertindak sendirian. Dia bersekongkol dengan seorang immortal bernama Shen Mo, yang mengaku berasal dari klan rahasia. Shen Mo datang bersama para pengikutnya dan memaksa para tetua, guru serta murid tunduk di bawah perintahnya dan meminta kami tetap bersikap seperti biasa, tidak menimbulkan kecurigaan. Jika ada yang berani melawan, Ketua Sekte dan murid-murid akan dibantai tanpa ampun. Tampaknya mereka khawatir jika keberadaan mereka di sini diketahui oleh pihak lain dan mengganggu rencana mereka di tempat ini."

